Wednesday, May 25, 2022

Aksi Nyata Pengelolaan Sumber Daya

 

AKSI NYATA

Modul 3.2.a.10

Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

 

Yuni Astuti Dewi Wulandari

CGP Angkatan 4 Kota Semarang

SMP Negeri 23 Semarang

 

Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT yang dalam hal ini sudah sampai pada modul 3.2 yaitu Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya dalam keadaan sehat walafiat. Tidak lupa saya haturkan terima kasih kepada bapak M. Ali Mas’ud, S.Pd., M.Pd. sebagai Fasilitator dalam mendampingi pembelajaran di Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 4 ini, serta bapak Nur Rahmat, S.Pd. selaku Pendamping Praktik saya dalam mendampingi praktik di lapangan. Saya mendapat kesempatan untuk mempraktikkan pengetahuan dan keterampilan tentang pengelolaan sumber daya yang memanfaatkan pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset. Kemudian saya pun mendapat kesempatan untuk menjalankan rancangan yang sudah dibuat pada tahap Koneksi Antarmateri. Selama menjalankan Aksi Nyata, saya mengambil tema :

A. Pengelolaan Aset Manusia, yaitu Guru. 

Bagi saya, guru adalah garda terdepan demi suksesnya sebuah pembelajaran. Maka dengan melakukan upaya pemahaman dan penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi terhadap guru terlebih dahulu, diharapkan proses pembelajaran di kelas akan lebih memberikan dampak positif nyata dan berpihak pada murid.

B. Pengelolaan Aset Fisik, yaitu Membuat Ruang Peningkatan Mutu Guru dari Ruang Kosong,

C. Pengelolaan Aset Lingkungan, yaitu mengurangi Sampah Plastik di Sekolah

Berikut ini saya lampirkan dokumentasi hasil dari proses yang terjadi, terutama pada tahapan-tahapan yang saya anggap penting.

 

A. PENGELOLAAN ASET MANUSIA

1. SUPERVISI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI OLEH TANOTO FOUNDATION

Hari/ Tanggal : Kamis,  4 April 2022

Tempat           : Ruang Kelas 9F

2. BERBAGI ILMU DI SMP NEGERI 7 SEMARANG

Hari/ Tanggal   : Rabu, 27 April 2022

Tempat            : Aula SMP Negeri 7 Semarang

MATERI BERBAGI ILMU:

1. Filosofi Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara

2. Budaya Positif

3. Coaching

4. Pembelajaran Berdiferensiasi


Tindak Lanjut Kegiatan Berbagi Ilmu :

Menjadi Pendamping Kandidat CGP SMP N 7 Semarang


 


3. BERBAGI ILMU DAN DISKUSI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI 
    MGMP BAHASA INGGRIS

Hari/ Tanggal  : Rabu, 18 Mei 2022

Tempat            : Ruang Peningkatan Mutu Guru


ANGGOTA MGMG BAHASA INGGRIS :

1. Wahyu Megawati, S.Pd.,M.Pd.

2. Dwi Utami Nurul H., S.Pd.

3. Yuni Astuti D.W., S.Pd.,M.Pd.

MATERI DISKUSI :

1. Pemahaman dan Persamaan Persepsi tentang Pembelajaran Berdiferensiasi

2. Tayangan Video Pembelajaran Berdiferensiasi

3. Pembagian RPP untuk Praktik Pembelajaran Berdiferensiasi

4. Persiapan Agenda Praktik Lesson Study



Ketiga dokumentasi kegiatan diatas adalah Aksi Nyata yang sudah saya lakukan dalam Praktik Pengelolaan Sumber Daya Manusia, yaitu Guru, dengan tema utamanya adalah Pembelajaran Berdiferensiasi.

Selanjutnya masih ada satu kegiatan lagi yang akan saya laksanakan yaitu Berbagi Ilmu Pembelajaran Berdiferensiasi dan pastinya Rangkuman Materi Modul 3 kepada rekan guru di sekolah saya sendiri, yaitu SMP Negeri 23 Semarang pada In House Training (IHT) yang dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 2 Juni 2022 di Wana Wisata Hutan Pinus Gonoharjo.








Menurut saya, Berbagi Ilmu adalah suatu keharusan. Sebagai Calon Guru Penggerak Angkatan 4 yang mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid, saya pun juga ingin selalu bisa membekali ilmu dan pengetahuan yang saya peroleh di Pendidikan Guru Penggerak ini kepada rekan sejawat saya agar nantinya pendidikan, khususnya di sekolah tempat saya bekerja, akan maju dan mampu melahirkan generasi penerus bangsa yang selamat, bahagia, dan berprofil Pelajar Pancasila.

B. Pengelolaan Aset Fisik, yaitu Membuat Ruang Peningkatan Mutu Guru dari Ruang Kosong,


Aksi Nyata pada Pengelolaan Aset Fisik sudah saya publikasikan pada blog ini.


Berbekal kepedulian akan sebuah ruang kosong dan tidak terpakai, muncul ide untuk memanfaatkan dan menjadikannya berfungsi, sebagai Ruang Peningkatan Mutu Guru.






 

C. Pengelolaan Aset Lingkungan/Alam, yaitu mengurangi Sampah Plastik di Sekolah


Aksi Nyata jangka pendek berkaitan dengan Aset Lingkungan/ Alam adalah Mengurangi Sampah Plastik di Sekolah








Kebersihan lingkungan menjadi tanggung jawab semua warga sekolah, dan Sekolah Adiwiyata tidak akan maksimal jika tidak ada kepedulian dari semua pihak.

Tuesday, May 24, 2022

Modul 3.2.a.9

 

KONEKSI ANTAR MATERI

3.2.a.9

Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

 

 

Yuni Astuti Dewi Wulandari

CGP Angkatan 4 Kota Semarang

SMP Negeri 23 Semarang

 

Pada awal modul, kita pahami bahwa ekosistem merupakan sebuah tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah ekositem yang mencirikan satu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu. Membicarakan ekosistem sekolah, kita dapat pahami bahwa ada faktor biotik dan abiotik pula yang akan saling mempengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lain. Faktor abiotik yang ada di ekosistem sekolah antara lain:

1.      Murid

2.      Kepala Sekolah

3.      Guru

4.      Staf/ Tenaga Kependidikan

5.      Pengawas Sekolah

6.      Orang Tua

7.      Masyarakat

Sedangkan faktor abiotik yang berperan aktif menunjang keberhasilan proses pembelajaran diantaranya adalah:

1.      Keuangan

2.      Sarana dan Prasarana

Kemudian, pengelolaan sumber daya dapat dilakukan dengan dua macam pendekatan, yaitu:

1.      Pendekatan Berbasis Kekurangan/ Masalah (Deficit-Based Thinking)

Pendekatan ini memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, yang kurang, dan yang tidak bekerja. Segala sesuatu dilihat dengan sudut pandang negatif. Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang akan diraih. Dengan berjalannya waktu, semakin lama, tanpa kita sadari, kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta dan tidak peduli dengan potensi dan peluang yang ada di sekitar kita.

2.      Pendekatan Berbasis Aset ( Asset-Based Thinking)

Pendekatan ini menemukan dan mengenali hak-hal positif. Dalam hal ini menemukan kekuatan apa saja yang perlu dioptimalkan, dibandingkan hanya mencari kekurangan dan masalah saja. Konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini adalah cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, dan yang menjadi kekuatan atau potensi positif.

Implementasi di Kelas, Sekolah, dan Masyarakat

Pastinya akan terjadi perubahan positif jika setiap elemen pun mengupayakan perubahan. Membangun dan membina hubungan baik merupakan inti dari membangun masyarakat inklusif yang sehat. Masyarakat akan merespon secara kreatif ketika fokus pembangunan pada sumber daya yang tersedia, kapasitas yang dimiliki, kekuatan dan aspirasi yang ada. Sekolah pun harus dibangun dengan melihat pada kekuatan, potensi, dan tantangan.  Dalam setiap unsur sekolah, pasti ada sesuatu yang berhasil. Maka, daripada  menanyakan, “Ada masalah apa?” dan “bagaimana memperbaikinya?”, lebih baik bertanya, “Apa yang telah berhasil dilakukan?”, dan “bagaimana mengupayakan lebih banyak lagi?” Hal itu akan mendorong energi dan kreatifitas. Pentingnya menciptakan perubahan positif dari sebuah perbincangan sederhana dan situasi yang menyenangkan. Itu merupakan cara bagaimana manusia berpikir bersama dan mencetuskan/ memulai suatu tindakan. Faktor utama dalam perubahan yang berkelanjutan adalah kepemimpinan lokal, pengembangan, dan pembaharuan kepemimpinan itu secara terus menerus. Bukankah titik awal perubahan selalu pada perubahan pola pikir (mindset) dan sikap yang positif?

Menurut Green dan Haines (2002), ada 7 aset yang perlu kita ketahui bersama. Diantaranya adalah modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/ alam, modal finansial, modal politik, serta modal agama dan budaya. Maka cara mengelolanya yaitu dengan cara fokus pada aset dan kekuatan, membayangkan masa depan, berikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut, mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan), merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan, serta melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan.

Keterkaitan Modul 3.2 dengan Materi pada Modul Sebelumnya

1.      Kaitan dengan Modul Filosofi Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah proses menuntun terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Maka seorang pemimpin harus mampu mengelola salah satu aset yang dimiliki sekolah yaitu modal manusia (guru dan murid). Pemimpin harus memastikan para gurunya melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid sehingga murid dapat berkembang sesuai kodratnya (kodrat alam dan kodrat jaman).

Seorang pemimpin harus mampu memastikan modal manusia (guru) dapat menerapkan nilai-nilai guru penggerak dalam kesehariannya, seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid.

Dengan diterapkannya nilai-nilai guru penggerak tersebut, maka sekolah akan dapat mewujudkan murid yang memiliki profil pelajar Pancasila, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kebhinekaan global, gotong-royong, dan kreatif.

2.      Kaitan dengan Modul Visi Guru Penggerak

Seorang pemimpin harus mampu menyusun visi dan misi yang jelas, terarah, dan berpihak pada murid. Melalui penerapan Inkuiri Apresiatif dengan menggunakan tahapan BAGJA. Seorang pemimpin akan dapat melakukan perubahan sekolah berbasis sumber daya yang akan menggerakkan semua warga sekolah untuk melakukan perubahan positif. Perubahan positif yang dilakukan secara konsisten akan melahirkan budaya positif.

3.      Kaitan dengan Modul Pembelajaran Berdiferensiasi, Sosial Emosional, dan Coaching

Seorang pemimpin harus mampu melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan minat, bakat, dan profil siswa. Pembelajaran tersebut biasa dikenal dengan nama pembelajaran berdiferensiasi. Agar pembelajaran berdiferensiasi dapat terlaksana maka seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk memetakan aset atau sumber daya yang dimiliki, khususnya aset manusia (murid) sehingga pembelajaran yang dilaksanakan akan bermakna bagi murid. Pemimpin harus memahami juga sosial emosional siswa sehingga ketika ada murid yang bermasalah bisa diberikan layanan coaching. Coaching bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk menemukan dan menggali potensi yang dimiliki murid untuk dapat dikembangkan. Dengan begitu, murid akan berkembang dan tumbuh secara maksimal.

4.      Kaitan dengan Modul Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Seorang pemimpin sebaiknya melewati 9 langkah dalam mengambil dan menguji keputusan. Dalam pengelolaan sumber daya/aset, juga dibutuhkan kemampuan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan saat melaksanakan pengelolaan sumber daya yang dimiliki.