LAPORAN AKSI NYATA
Disusun oleh:
Nama : Yuni Astuti Dewi Wulandari,
S.Pd., M.Pd.
NIP : 19800603 201406 2002
Unit
Kerja : SMP Negeri 23 Semarang
DINAS PENDIDIKAN KOTA SEMARANG
2022
A.
Latar
Belakang
Terinspirasi dari pemikiran Ki Hajar
Dewantara, bahwa maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat
yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan
yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat.
Tertuang dalam buku Dasar-Dasar Pendidikan halaman 1 paragraf 4. Maka dari itu,
pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada
pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya hidup dan tumbuhnya kekuatan
kodrat anak.
Ditambah lagi bahwa guru atau
pendidik itu diibaratkan seorang petani yang menanam padi, yang mana ia perlu
menyiapkan lingkungan tumbuh kembang bibit padi tersebut dengan ekosistem yang
baik. Begitulah yang semestinya dilakukan oleh seorang pendidik dalam ekosistem
pendidikan. Lingkungan pendidikan yang baik, nyaman, dan mampu menumbuhkan
karakter anak pada umumnya, dan menggali bakat minat anak pada khususnya.
Sehingga bisa dikatakan bahwa pendidikan karakter perlu dibangun demi
mewujudkan peradaban yang baik. Sekolah dan lingkungan belajar perlu menyiapkan
segala daya dukungnya untuk melahirkan generasi penerus bangsa yang memiliki
karakter kuat. Dengan pendidikan karakter sebagai kebutuhan dasar, maka siswa
tidak hanya dibekali dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun juga
pendampingan dan tuntunan yang baik agar mampu menjadi pribadi berprofil
Pancasila yang baik serta memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, keluarga
maupun masyarakat.
Dengan
perkembangan jaman, perlu disadari bahwa guru harus mampu belajar dan membuka
diri, mengubah paradigma untuk menuntun dan mendidik siswa sesuai dengan kodrat
alam dan jamannya. Guru kembali perlu disadarkan betapa pentingnya kehadiran
mereka di tengah siswanya. Menjadi contoh dan teladan di depan para siswa, menggali
dan memberi semangat di tengah siswa-siswanya, serta mendorong dan meningkatkan
potensi serta semangat di belakang siswa-siswanya. Terutama di tengah-tengah
perkembangan arus teknologi digitalisasi yang semakin canggih, dimana perlu
penanaman filter yang kuat agar siswa kita tidak ikut arus dalam pengaruh
negatif dari segala bentuk perkembangan jaman itu sendiri. Maka dari itu,
meneruskan pemahaman tentang bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang
kondusif sangat perlu dilakukan oleh semua pihak. Guru perlu membudayakan
segala kegiatan positif yang berpihak pada siswa di sekolahnya, baik melalui
kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Tidak hanya itu saja, tuntunan
dan pendampingan tumbuh kembangnya karakter siswa juga menjadi kesadaran dan
tanggungjawab bersama bagi guru untuk mewujudkannya. Mulai dari lingkungan
paling kecil di sekolah, hingga lingkup lebih besar yaitu sekolah dan
masyarakat sekitar. Itulah mengapa perlu sekali mewujudkan tumbuh kembang
karakter siswa melalui pembiasaan budaya positif.
Perlu dipahami bahwa
budaya positif itu sendiri bisa diartikan nilai, keyakinan, dan kebiasaan
positif yang berpihak pada siswa dan diterapkan di sekolah. Dengan kebersamaan
dan gerakan semua guru maupun warga sekolah yang mendukung budaya positif di
sekolah, diharapkan nantinya siswa mampu tumbuh dan berkembang menjadi manusia
berjiwa Pancasila, menjadi pribadi yang bertanggungjawab, berpikir kritis,
mandiri, berkebhinekaan global, dan penuh hormat kepada sesama. Pemikiran Ki
Hajar Dewantara sangat luar biasa, guru berperan penting menjadi penuntun siswa
menuju kebahagiaan dan keselamatan siswa, dengan tetap memperhatikan kodrat
alam anak dan kodrat jaman. Generasi penerus bangsa Indonesia yang tumbuh
dengan karakter baik, pastinya akan memberikan manfaat bagi dirinya sendiri,
keluarga, dan masyarakat luas.
B.
Deskripsi Aksi Nyata
Makna disiplin positif itu sendiri adalah
sebuah pendekatan yang disiapkan untuk mengembangkan siswa menjadi pribadi
mandiri dan anggota dari komunitas yang berpikir kritis, bertanggung jawab, dan
penuh hormat kepada sesama. Disiplin positif meliputi pengajaran atas
ketrampilan sosial dan kehidupan penting baik bagi siswa maupun kepada orang
dewasa dengan cara yang sangat baik, dengan sikap menghormati, menjaga mental
dan kesehatan jiwa, membesarkan hati, sehingga tumbuh karakter kuat pada
pribadinya.
Disamping itu, disiplin
positif cirinya adalah dengan tidak menggunakan pertentangan atau pemaksaan,
namun selalu menggali kesadaran dan tanggung jawab yang tujuannya membangun
kekuatan diri siswa, tidak justru melemahkan mental mereka. Ditunjukkannya
penguatan positif (Positive Reinforcement) untuk menunjukkan keteladanan dan
perilaku yang baik.
Mewujudkan budaya positif
di lingkungan sekolah dimulai dari lingkup kecil yaitu di dalam kelas.
Diketahui bahwa kesepakatan atau keyakinan kelas menjadi satu langkah awal
menuju konsep budaya positif di sekolah. Proses penyusunan kesepakatan atau
keyakina kelas dilakukan oleh para siswa sendiri dengan didampingi guru di
kelas. Hal tersebut melatih siswa mengutarakan pendapat dan gagasannya atas
sikap dan perilaku yang sebaiknya dilakukan dalam proses pembelajaran di kelas.
C.
Hasil Aksi Nyata
Nama Guru :
Yuni Astuti D.W., M.Pd.
Mapel :
Bahasa Inggris
Kelas yang Diampu :
8 CD dan 9 CDEF
1. 1. Menyusun Kesepakatan/ Keyakinan Kelas
Pada waktu memasuki Kegiatan Belajar Mengajar di awal
semester, selain menyampaikan Kontrak Belajar yang berisi Materi atau
Kompetensi Dasar yang akan dipelajari, penting bagi guru juga membuat sebuah Kesepakatan/ Keyakinan Kelas
yang diprakarsai oleh siswa sendiri. Hal tersebut bertujuan untuk menumbuhkan
kesadaran dan tanggung jawab, pendampingan dalam sikap dan perilaku, serta
menguatkan karakter siswa.
2. 2. Menerapkan Segitiga Restitusi dalam Menghadapi
Permasalahan Siswa
Segitiga Restitusi yang meliputi validasi tindakan
yang salah, menstabilkan identitas, dan menanyakan keyakinan, telah terbukti
menjadi sarana yang efektif dan tepat dalam menghadapi permasalahan siswa. Pada
saat proses pembelajaran berlangsung (baik luring maupun daring), tidak
dipungkiri bahwa guru akan menemukan masalah atau kendala dikarenakan perilaku
atau sikap siswa yang tidak semestinya, maka dengan melakukan pendekatan yang
baik dan segala hal dikomunikasikan dengan pikiran terbuka, ditambah lagi
meyakinkan diri siswa apa yang sebaiknya dilakukan sebagai solusinya. Maka
perlahan tapi pasti siswa akan tumbuh kesadaran dalam perkembangan karakternya.
Memang tidak mudah dan tidak ujug-ujug atau instan, semua perlu waktu dan
proses ,sebab sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan
sejatinya adalah proses mendidik dan menuntun anak sesuai dengan kodrat alam
dan kodrat jaman.
a.
Rambut Siswa Kurang Rapi dan Atribut Seragam Tidak
Lengkap
b.
Melepas Masker dan Bermain Hand Sanitizer di Kelas
4. 4. Melakukan Sosialisasi Budaya Positif kepada Rekan
Sejawat dan Masyarakat
Sangat dipandang perlu dalam hal membagikan ilmu dan
sharing materi atau praktik baik yang dilakukan kepada rekan sejawat dan
masyarakat luas. Maka dari itu tercetuslah ide dalam membuat program semacam
talk show dengan judul Bincang Asyik bersama CGP dan kolaborasi dengan bapak
Radi, S.Pd. rekan guru senior yang juga seorang youtuber Sahabat Matematika
Channel. Dengan diunggah pada media sosial dan You Tube maka jangkauannya
diharapkan lebih luas dan pesan positif Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara
dan Budaya Positif tersampaikan dengan luwes dan baik. Dihadirkan pula beberapa
perwakilan rekan guru yang bertugas sebagai Pembina OSIS (ibu D. Anna Mulia V,
S.Pd), guru BK (ibu Anik Masrifaniah R, S.Pd.), serta dua orang guru perwakilan
Wali Kelas (bapak Agus Budiharto, S.Pd. dan ibu Dwi Puji Utami, S.Pd).
Berikut Link You Tube dimana video tersebut diunggah :
a.
Sahabat Matematika
Channel
Part 1 : https://youtu.be/f48nMu8D2Uk
Part 2 : https://youtu.be/ED3BZBeOzYs
D.
Penutup
Dengan memahami regulasi dan perkembangan
yang terjadi di dunia pendidikan menurut jamannya, tidak akan sulit merubah
paradigma seorang guru. Guru perlu terus belajar, bergerak bersama, melakukan
inovasi pembelajaran bermakna, mengenali karakteristik siswa, dan mewujudkan
jiwa pendidik yang mampu menjadi panutan dan penuntun semua siswa sesuai dengan
kodrat alam dan kodrat jamannya.
“Manusia tiada yang terlahir
sempurna, namun ada banyak cara untuk berproses menjadi pribadi yang lebih
baik”
(Yuni Astuti D.W., M.Pd.)
DOKUMENTASI KETELADANAN
SEBAGAI GOOGLE CERTIFIED EDUCATOR
LEVEL I
SHARING ILMU KEPADA REKAN SEJAWAT
1. 1. Praktik Pembelajaran Aktif Menggunakan Akun Belajar.id
Hari/ Tanggal : Jumat, 3
Desember 2021
Tempat : Ruang Multi Media
2. 2. Pendampingan Kelas BIMOLI yang Diselenggarakan oleh
LPMP Jawa Tengah
Hari/Tanggal : Selasa - Kamis, 9 – 11 November 2021 (Sinkronus)
Minggu
- Senin, 14 – 29 November 2021 (Asinkronus)
SEBAGAI GURU BERPRESTASI TINGKAT SEKOLAH
TAHUN 2021
Disampaikan pada Apel Pagi
Hari/ Tanggal :
Senin, 17 Januari 2022
Tempat :
Lapangan Sekolah
No comments:
Post a Comment