Sunday, February 6, 2022

Aksi Nyata Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Menumbuhkan Budaya Positif di Sekolah

 

LAPORAN AKSI NYATA

 MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF

 CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 4 KOTA SEMARANG

 

 

 

 


 



 

 

Disusun oleh:

 

                        Nama               : Yuni Astuti Dewi Wulandari, S.Pd., M.Pd.

NIP                 : 19800603 201406 2002

Unit Kerja       : SMP Negeri 23 Semarang

 

 

 

 

 

  

DINAS PENDIDIKAN KOTA SEMARANG

2022



A.    Latar Belakang

 

Terinspirasi dari pemikiran Ki Hajar Dewantara, bahwa maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat. Tertuang dalam buku Dasar-Dasar Pendidikan halaman 1 paragraf 4. Maka dari itu, pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.

Ditambah lagi bahwa guru atau pendidik itu diibaratkan seorang petani yang menanam padi, yang mana ia perlu menyiapkan lingkungan tumbuh kembang bibit padi tersebut dengan ekosistem yang baik. Begitulah yang semestinya dilakukan oleh seorang pendidik dalam ekosistem pendidikan. Lingkungan pendidikan yang baik, nyaman, dan mampu menumbuhkan karakter anak pada umumnya, dan menggali bakat minat anak pada khususnya. Sehingga bisa dikatakan bahwa pendidikan karakter perlu dibangun demi mewujudkan peradaban yang baik. Sekolah dan lingkungan belajar perlu menyiapkan segala daya dukungnya untuk melahirkan generasi penerus bangsa yang memiliki karakter kuat. Dengan pendidikan karakter sebagai kebutuhan dasar, maka siswa tidak hanya dibekali dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun juga pendampingan dan tuntunan yang baik agar mampu menjadi pribadi berprofil Pancasila yang baik serta memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat.

            Dengan perkembangan jaman, perlu disadari bahwa guru harus mampu belajar dan membuka diri, mengubah paradigma untuk menuntun dan mendidik siswa sesuai dengan kodrat alam dan jamannya. Guru kembali perlu disadarkan betapa pentingnya kehadiran mereka di tengah siswanya. Menjadi contoh dan teladan di depan para siswa, menggali dan memberi semangat di tengah siswa-siswanya, serta mendorong dan meningkatkan potensi serta semangat di belakang siswa-siswanya. Terutama di tengah-tengah perkembangan arus teknologi digitalisasi yang semakin canggih, dimana perlu penanaman filter yang kuat agar siswa kita tidak ikut arus dalam pengaruh negatif dari segala bentuk perkembangan jaman itu sendiri. Maka dari itu, meneruskan pemahaman tentang bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang kondusif sangat perlu dilakukan oleh semua pihak. Guru perlu membudayakan segala kegiatan positif yang berpihak pada siswa di sekolahnya, baik melalui kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Tidak hanya itu saja, tuntunan dan pendampingan tumbuh kembangnya karakter siswa juga menjadi kesadaran dan tanggungjawab bersama bagi guru untuk mewujudkannya. Mulai dari lingkungan paling kecil di sekolah, hingga lingkup lebih besar yaitu sekolah dan masyarakat sekitar. Itulah mengapa perlu sekali mewujudkan tumbuh kembang karakter siswa melalui pembiasaan budaya positif.

Perlu dipahami bahwa budaya positif itu sendiri bisa diartikan nilai, keyakinan, dan kebiasaan positif yang berpihak pada siswa dan diterapkan di sekolah. Dengan kebersamaan dan gerakan semua guru maupun warga sekolah yang mendukung budaya positif di sekolah, diharapkan nantinya siswa mampu tumbuh dan berkembang menjadi manusia berjiwa Pancasila, menjadi pribadi yang bertanggungjawab, berpikir kritis, mandiri, berkebhinekaan global, dan penuh hormat kepada sesama. Pemikiran Ki Hajar Dewantara sangat luar biasa, guru berperan penting menjadi penuntun siswa menuju kebahagiaan dan keselamatan siswa, dengan tetap memperhatikan kodrat alam anak dan kodrat jaman. Generasi penerus bangsa Indonesia yang tumbuh dengan karakter baik, pastinya akan memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat luas.

 

 

B. Deskripsi Aksi Nyata

 

Makna disiplin positif itu sendiri adalah sebuah pendekatan yang disiapkan untuk mengembangkan siswa menjadi pribadi mandiri dan anggota dari komunitas yang berpikir kritis, bertanggung jawab, dan penuh hormat kepada sesama. Disiplin positif meliputi pengajaran atas ketrampilan sosial dan kehidupan penting baik bagi siswa maupun kepada orang dewasa dengan cara yang sangat baik, dengan sikap menghormati, menjaga mental dan kesehatan jiwa, membesarkan hati, sehingga tumbuh karakter kuat pada pribadinya.

Disamping itu, disiplin positif cirinya adalah dengan tidak menggunakan pertentangan atau pemaksaan, namun selalu menggali kesadaran dan tanggung jawab yang tujuannya membangun kekuatan diri siswa, tidak justru melemahkan mental mereka. Ditunjukkannya penguatan positif (Positive Reinforcement) untuk menunjukkan keteladanan dan perilaku yang baik.

Mewujudkan budaya positif di lingkungan sekolah dimulai dari lingkup kecil yaitu di dalam kelas. Diketahui bahwa kesepakatan atau keyakinan kelas menjadi satu langkah awal menuju konsep budaya positif di sekolah. Proses penyusunan kesepakatan atau keyakina kelas dilakukan oleh para siswa sendiri dengan didampingi guru di kelas. Hal tersebut melatih siswa mengutarakan pendapat dan gagasannya atas sikap dan perilaku yang sebaiknya dilakukan dalam proses pembelajaran di kelas.

C. Hasil Aksi Nyata

 

Nama Guru                 : Yuni Astuti D.W., M.Pd.

Mapel                          : Bahasa Inggris

Kelas yang Diampu     : 8 CD dan 9 CDEF

 

1.    1. Menyusun Kesepakatan/ Keyakinan Kelas

 

Pada waktu memasuki Kegiatan Belajar Mengajar di awal semester, selain menyampaikan Kontrak Belajar yang berisi Materi atau Kompetensi Dasar yang akan dipelajari, penting bagi guru juga  membuat sebuah Kesepakatan/ Keyakinan Kelas yang diprakarsai oleh siswa sendiri. Hal tersebut bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab, pendampingan dalam sikap dan perilaku, serta menguatkan karakter siswa.

 




 

2.     2. Menerapkan Segitiga Restitusi dalam Menghadapi Permasalahan Siswa

 

Segitiga Restitusi yang meliputi validasi tindakan yang salah, menstabilkan identitas, dan menanyakan keyakinan, telah terbukti menjadi sarana yang efektif dan tepat dalam menghadapi permasalahan siswa. Pada saat proses pembelajaran berlangsung (baik luring maupun daring), tidak dipungkiri bahwa guru akan menemukan masalah atau kendala dikarenakan perilaku atau sikap siswa yang tidak semestinya, maka dengan melakukan pendekatan yang baik dan segala hal dikomunikasikan dengan pikiran terbuka, ditambah lagi meyakinkan diri siswa apa yang sebaiknya dilakukan sebagai solusinya. Maka perlahan tapi pasti siswa akan tumbuh kesadaran dalam perkembangan karakternya. Memang tidak mudah dan tidak ujug-ujug atau instan, semua perlu waktu dan proses ,sebab sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan sejatinya adalah proses mendidik dan menuntun anak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat jaman.

 

a.      Rambut Siswa Kurang Rapi dan Atribut Seragam Tidak Lengkap

 


     


 

b.      Melepas Masker dan Bermain Hand Sanitizer di Kelas

  



 3.      Melaksanakan Pembelajaran yang Berpihak pada Siswa

                               



4.     4.  Melakukan Sosialisasi Budaya Positif kepada Rekan Sejawat dan Masyarakat

 

Sangat dipandang perlu dalam hal membagikan ilmu dan sharing materi atau praktik baik yang dilakukan kepada rekan sejawat dan masyarakat luas. Maka dari itu tercetuslah ide dalam membuat program semacam talk show dengan judul Bincang Asyik bersama CGP dan kolaborasi dengan bapak Radi, S.Pd. rekan guru senior yang juga seorang youtuber Sahabat Matematika Channel. Dengan diunggah pada media sosial dan You Tube maka jangkauannya diharapkan lebih luas dan pesan positif Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Budaya Positif tersampaikan dengan luwes dan baik. Dihadirkan pula beberapa perwakilan rekan guru yang bertugas sebagai Pembina OSIS (ibu D. Anna Mulia V, S.Pd), guru BK (ibu Anik Masrifaniah R, S.Pd.), serta dua orang guru perwakilan Wali Kelas (bapak Agus Budiharto, S.Pd. dan ibu Dwi Puji Utami, S.Pd).

 

Berikut Link You Tube dimana video tersebut diunggah :

a.       Sahabat Matematika Channel

Part 1 : https://youtu.be/f48nMu8D2Uk

 



Part 2 : https://youtu.be/ED3BZBeOzYs



 b.      Yuni Astuti Dewi W. : https://youtu.be/JRoVk8AGv8U

 




D. Penutup

 

Dengan memahami regulasi dan perkembangan yang terjadi di dunia pendidikan menurut jamannya, tidak akan sulit merubah paradigma seorang guru. Guru perlu terus belajar, bergerak bersama, melakukan inovasi pembelajaran bermakna, mengenali karakteristik siswa, dan mewujudkan jiwa pendidik yang mampu menjadi panutan dan penuntun semua siswa sesuai dengan kodrat alam dan kodrat jamannya.

 

“Manusia tiada yang terlahir sempurna, namun ada banyak cara untuk berproses menjadi pribadi yang lebih baik”

(Yuni Astuti D.W., M.Pd.)

 


DOKUMENTASI KETELADANAN

SEBAGAI GOOGLE CERTIFIED EDUCATOR LEVEL I
SHARING ILMU KEPADA REKAN SEJAWAT

 

1.      1. Praktik Pembelajaran Aktif  Menggunakan Akun Belajar.id

Hari/ Tanggal              : Jumat, 3 Desember 2021

Tempat                        : Ruang Multi Media

 




2.      2. Pendampingan Kelas BIMOLI yang Diselenggarakan oleh LPMP Jawa Tengah

 

Hari/Tanggal   :  Selasa -  Kamis, 9 – 11 November 2021 (Sinkronus)                                     

                           Minggu - Senin, 14 – 29 November 2021 (Asinkronus)

 

   



         

SEBAGAI GURU BERPRESTASI TINGKAT SEKOLAH

TAHUN 2021

 

Disampaikan pada Apel Pagi

Hari/ Tanggal  : Senin, 17 Januari 2022

Tempat            : Lapangan Sekolah

 



 

 

No comments:

Post a Comment