KONEKSI ANTAR MATERI 3.1.a.9
Pengambilan Keputusan sebagai
Pemimpin Pembelajaran
Yuni Astuti
Dewi Wulandari, S.Pd., M.Pd.
CGP Angkatan
4 Kota Semarang
SMP Negeri
23 Semarang
Rangkuman
berdasarkan Pertanyaan Panduan.
1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional kita yang mewariskan filosofi Pratap Triloka atau tiga semboyan yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa,d an Tut Wuri Handayani. Penjelasan singkatnya sebagai berikut. Pertama, Ing Ngarso Sung Tulodho memiliki arti bahwa guru di depan mampu memberikan contoh atau keteladanan, bagi sebagai guru bagi para siswanya, rekan sejawat, dan anggota masyarakat. Dalam mengambil sebuah keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran, guru harus menganalisa dan mempertimbangkan matang-matang, sebab segala keputusan yang akan diambil akan menjadi contoh bagi siswa, rekan sejawat, dan anggota masyarakat. Kedua, Ing Madya Mangun Karsa, memiliki arti bahwa di tengah, seorang guru dapat membangun karsa, kemampuan, atau semangat. Maka guru hendaknya mampu mengambil keputusan yang berpihak kepada siswa, sehingga dapat membangkitkan karsa, semangat dan kemampuan para siswanya. Ketiga, Tut Wuri Handayani, memiliki arti bahwa di belakang, seorang guru dapat memberikan dorongan kepada siswanya agar dapat berkembang sesuai dengan potensi diri dan kodratnya. Maka dari itu guru diharapkan mampu mengambil suatu keputusan terkait proses pembelajaran dan kegiatan sekolah yang dapat mendorong kemampuan siswa agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan minat, profil dan kesiapan belajar siswanya.
2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Dengan mempelajari modul 3.1 bisa
dirangkum bahwa nilai-nilai yang tertanam dalam diri guru sangat berpengaruh
pada prinsip-prinsip yang diambil dalam pengambilan keputusan. Tiga prinsip
pengambilan keputusan ada tiga, meliputi: Rule-based Thinking (Pemikiran
berbasis Peraturan). Prinsip ini biasanya diambil oleh orang-orang yang
mengedepankan intusisi, kejujuran, aturan atau suatu prinsip yang mendalam. Kedua
adalah End-based Thinking (Pemikiran berbasis Hasil Akhir), yang biasanya
diambil oleh orang-orang yang mengutamakan nilai-nilai agama, penghargaan atas
kehidupan, masa depan, dan kepentingan orang banyak. Kemudian yang ketiga
adalah Care-based Thinking (Pemikiran berbasis Rasa Peduli), prinsip ini
biasanya diambil oleh orang-orang yang mengutamakan rasa kasih sayang, cinta,
toleransi, kesetiaan, dan empati.
Alhamdulillah, proses pembimbingan yang
dilakukan oleh pendamping praktik kelompok saya (Bapak Nur Rahmat, S.Pd.) dan
fasilitator (Bapak M. Ali Mas’ud, S.Pd., M.Pd.) sangat membantu saya dalam
kegiatan praktik evaluasi keputusan yang saya ambil. TIRTA, yang dikembangkan
dari model GROW (Goal, Reality, Options, dan Will), merupakan model coaching yang dikembangkan dnegan
semangat merdeka belajar. Tujuan coaching sendiri mampu menggali potensi diri
siswa. Keputusan yang berpihak pada siswa, ditambah memiliki muatan nilai-nilai
kebajikan universal yang sangat bermanfaat dalam kehidupan, serta
pertanggungjawaban atas keputusan yang saya ambil. Semua itu akan sangat
mendewasakan diri saya dengan melatihnya setiap saat.
Guru adalah pendidik, pembimbing, dan
fasilitator dalam pembelajaran para siswanya. Maka dari itu, hendaknya guru
bisa menjembatani perbedaan profil, minat dan gaya belajar siswa di kelasnya
masing-masing. Sehingga para siswa merasa nyaman dalam proses pembelajaran
karena terakomodir kebutuhan belajarnya oleh guru. Keputusan yang diambil pun
sebaiknya penuh dengan kebijaksanaan dan pemikiran matang agar siswa tumbuh
merdeka dalam belajar dan tumbuhnya potensi diri yang nanti berpengaruh pada
kehidupan di masa datang.
Mempelajari modul 2 tentang Visi Guru
Penggerak, maka bisa saya sampaikan bahwa jika seorang guru atau pendidik telah
memiliki nilai-nilai guru penggerak yaitunmandiri, inovatif, kolaboratif,
reflektif, dan berpihak pada siswa, maka ia akan mampu mengambil suatu
keputusan yang berpihak pada siswa dengan muatan nilai-nilai kebajikan
universal dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun, meskipun tidak semua, jika
seorang guru belum memiliki nilai-nilai guru penggerak atau telah berkurang
idealismenya maka keputusan yang diambil dikhawatirkan mengutamakan kepentingan
pribadi atau golongan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Kembali pada modul 3.1 bahwa sebuah
pengambilan keputusan yang baik dan tepat tentunya dilakukan secara bertahap.
Tidak hanya itu, perlu analisis terlebih dahulu dengan empat paradigma dilema
etika apa yang ada di dalamnya. Bisa jadi dalam sebuah kasus keputusan, ada
dilema etika individu lawan masyarakat , rasa keadilan lawan rasa kasihan,
kebenaran lawan kesetiaan, dan jangka pendek lawan jangka panjang. Tidak hanya
itu, kita juga bisa mengamati misi pengambilan keputusan yang paling tepat,
bisa menggunakan Rule-based Thinking, End-based Thinking, atau Care-based
Thinking. Ditambah lagi sembilan langkah dalam pengambilan keputusan juga
dipertimbangkan, agar keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan dan
tercipta lingkungan positif, kondusif, aman, dan nyaman tidak merugikan banyak
pihak.
Segala hal pasti menjadi hal baru jika ini
adalah sebuah perubahan. Menurut saya, perlu sekali mengimbaskan kepada seluruh
rekan sejawat di sekolah tentang pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
Sehingga nantinya berkembang positif dan lingkungan makin nyaman dan aman.
Untuk saat ini memang keputusan yang diambil cenderung terpengaruh paradima dan
budaya yang sudah ada, dan memakan waktu lama. Terkadang juga keputusan diambil
secara central oleh pimpinan yang membuat guru menjadi dilema atau dihadapkan
pada pilhan yang sulit. Kemudian dalam sebuah keputusan pun tidak semua kompak
menjalankannya, sehingga masih terasa ada kelompok yang berbeda cara pandangnya dalam menyikapi suatu keputusan.
Pengaruhnya sangat besar. Jika keputusan
yang diambil sudah berpihak pada siswa, terkait pembelajaran yang sesuai dengan
kebutuhan siswa, maka siswa akan tumbuh dan tergali potensi dirinya sehingga
mampu menjadi manusia bahagia dan bagian masyarakat. Jika sebaliknya, maka
sangat disayangkan tumbuh kembang siswa terhambat dan tidak maksimal.
Pastinya dua hal itu sangat berhubungan
erat, antara pengambilan keputusan dengan pengajaran yang memerdekakan siswa. Terkait dengan pengambilan keputusan yang
berpihak pada siswa, itu menjadi motivasi tersendiri bagi siswa. Bahkan akan
menggali potensi diri siswa, apalagi jika keputusan yang diambil
dipertimbangkan juga dengan modul 2 tentang Pembelajaran Berdiferensiasi, minat
dan profil belajar siswa, serta Pembelajaran Sosial Emosional. Kebijaksanaan
seorang guru dalam pengambilan keputusan yang baik akan membantu tumbuh
kembangnya siswa dengan bahagia dan aman nyaman dalam kehidupan nyata.
Kesimpulannya adalah bahwa pengambilan
keputusan adalah suatu ketrampilan (skill) atau kompetensi yang sangat perlu
dimiliki oleh seorang guru, berdasarkan Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara
yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran. Pengambilan Keputusan yang
bertanggungjawab didasarkan pula pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA
dapat menciptakan lingkungan positif, kondusif, aman, dan nyaman bagi siswa.
Guru berbekal kesadaran penuh (mindfullness) akan mampu menghantarkan siswa
menjadi pelajar profil Pancasila. Meskipun dalam perjalanannya seorang guru
akan menemui banyak dilema etika dan bujukan moral, tetaplah diperlukan
ketrampilan analisis prinsip pengambilan keputusan. Ditambah panduan langkah
dan pengujian keputusan untuk memecahkan masalah agar keputusan yang diambil
berpihak pada siswa demi terwujudnya merdeka belajar dan generasi emas Indonesia.
Demikian rangkuman koneksi antar materi
modul 3.1 ini. Semoga bermanfaat.


Sungguh luar biasa, artikel yang Ibu tulis, menambah wawasan bagi saya. Ternyata ada keterkaitan antara filosofi KHD dan pengambilan keputusan yang tentunya menuju keberpihakan pada murid. Semoga ke depannya bisa terwujud apa yang menjadi harapan bersama.
ReplyDeleteAamiin.Terima kasih bu Har.
ReplyDelete