Monday, April 25, 2022

Ruang Kosong menjadi Ruang Peningkatan Mutu Guru

 Aksi Nyata Modul 3.1.a.10

Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

 

Yuni Astuti Dewi Wulandari

CGP Angkatan 4 Kota Semarang

SMP Negeri 23 Semarang

 

Peristiwa (Fact)

Kita ketahui bahwa seorang pemimpin pembelajaran diharapkan mampu melakukan pengambilan keputusa berdasarkan prinsip pemimpin pembelajaran, mampu menyadari dan menggunakan prinsip moral dalam melakukan pengambilan keputusan dan mampu menerapkan strategi untuk menghindari adanya isu kode etik kepemimpinan sekolah dan konflik kepentingan. Pada modul 3.1 ini aksi nyata saya adalah “Mengubah Ruang Kosong di Sekolah menjadi Ruang Peningkatan Mutu Guru”. Sekolah tempat saya mengajar, SMP Negeri 23 Semarang, yang berada di kelurahan Wonolopo, kecamatan Mijen, kota Semarang, mempunyai lahan yang masih luas. Ada sebuah ruangan kosong dan kotor terbengkelai, persisnya di bawah tangga menuju laboratorium komputer, yang selama ini dijadikan tempat untuk meletakkan matras olahraga, kursi kayu sisa, dan kayu penanda kelas. Ruangan tersebut letaknya juga di dekat lapangan belakang. Pernah beberapa kali saya melewati ruangan tersebut dan merasa risih karena pemandangan yang tidak rapi atau bahasa Jawanya “umbruk-umbrukan” di ruangan tersebut.




Pada saat itu hari Jumat tanggal 4 Maret 2022, saya menghadap bapak Anwar Kumaidi, S.Pd., M.Pd. selaku kepala sekolah, dan menyampaikan gagasan saya untuk membenahi ruangan tersebut agar berfungsi dan tidak kotor. Awalnya beliau merasa tidak begitu menyetujui, entahlah mungkin dianggap ruangan tersebut untuk tempat gibah para guru, padahal sebaliknya. Saya memiliki ide untuk memanfaatkannya menjadi ruang peningkatan mutu guru, dan itu pun bisa jadi program jangka panjang ke depannya sebagai tempat untuk tindak lanjut dari berbagai kegiatan keilmuan. Kemudian saya menemui bapak Turut, S.Pd. yang bertugas menjadi PP (Pembantu Pimpinan) standar sarana prasarana dan meminta izin untuk memfungsikan ruangan kosong tersebut. Tidak hanya itu, saya juga menyampaikan gagasan saya tersebut kepada bu Rina Sinaryu, S.S selaku Kormin.Alhamdulillah beliau berdua mendukung saya dan sangat mengapresiasi niat baik saya itu. Tidak berhenti disitu, pada hari Jumat tanggal 18 Maret 2022, saya menyampaikan gagasan tersebut kepada ibu/bapak guru saat briefing pagi dan disetujui. Sehingga akhirnya bapak kepala sekolah memahami maksud saya dan menyetujui memberikan izin untuk memanfaatkan ruang kosong tersebut. Maka segera saya bergerak meminta staf TU dan petugas kebersihan untuk membersihkan ruangan tersebut.

Paradigma yang terjadi adalah Individu lawan Masyarakat (Individual vs Community), dimana saya berusaha dan berjuang mendapatkan dukungan warga di sekolah untuk mewujudkan ide itu. Kemudian prinsip yang saya ambil yaitu ‘Berpikir berbasis hasil Akhir (Ends-based Thinking). Saya mencoba menggunakan 9 langkah untuk pertimbangan bahan pengujian dan pengambilan keputusan yang akan diambil sehingga muncullah sebuah keputusan yang tepat yaitu mengubah ruangan kosong menjadi ruang peningkatan mutu guru.

 





Perasaan (Feelings)

Alhamdulillah, saya merasa bangga dan senang menjadi peserta CGP Angkatan 4 Kota Semarang, serta bersyukur mendapat banyak ilmu bermanfaat yang dapat mengubah paradigma guru menjadi lebih baik dan selalu berpihak pada siswa. Terkait gagasan saya itu, akhirnya ruangan kosong menjadi bersih setelah dibersihkan oleh petugas kebersihan. Kemudian saya mengajak beberapa orang siswa kelas 9 untuk menata dan menghias ruangan baru tersebut dengan hasil karya mereka, yaitu hasil praktik mapel Seni Budaya dan Prakarya. Setelah ruangan benar-benar siap, maka saya posting informasi ruang baru ini di group WA guru dan karyawan SMP N 23 Semarang pada tanggal 6 April 2022. Banyak rekan sejawat yang merespon positif dan para siswa yang akan menuju ruang laboratorium komputer di lantai atas pun merasa senang dengan berfungsinya ruangan di bawah tangga tersebut, sehingga tidak terkesan kumuh, sepi, singup, dan kotor tak terawat. Siapapun bisa menggunakan ruangan tersebut. Bahkan guru yang akan melakukan Coaching atau pendampingan Lomba pun juga bisa memanfaatkannya.

 



 


Pembelajaran (Findings)

Menjadi pemimpin baik saat menjadi guru bagi siswa, atau menjadi kepala sekolah tidak mudah, namun bisa dipelajari. Keputusan yang diambil pun akan memberikan dampak positif bagi perkembangan dan tumbuhnya potensi diri para siswa. Berkomunikasi pun ada dampaknya, apakah cara komunikasi agresif, pasif, atau asertif yang akan kita gunakan. Yang paling pas adalah komunikasi asertif karena cara berkomunikasi tersebut tetap menjaga hak-hak serta perasaan pihak lain. Mengekspresikan diri dengan cara yang positif telah saya tunjukkan dengan menyampaikan ide dan gagasan saya kepada rekan sejawat dan kepala sekolah, serta dengan cara yang baik dan pendekatan personal tentang memfungsikan ruang kosong menjadi ruang peningkatan mutu guru. Pada akhirnya rekan sejawat pun mulai memanfaatkan ruangan tersebut pada tanggal 8 April 2022. Tidak hanya itu, ruangan peningkatan mutu guru juga untuk kegiatan jangka panjang, seperti kegiatan MGMP sekolah, literasi, forum diskusi guru, tindak lanjut supervisi, PKG dan PKB. Bahkan ruangan baru tersebut bisa menjadi base camp komunitas praktisi untuk mengembangkan diri. Saya pun terbuka terhadap kritikan dan saran dari mereka untuk ke depannya. Tidak mudah memang, karena kita benar-benar berlatih mengontrol ego kita demi kepentingan dan perasaan orang lain. Namun jika dilakukan terus, maka kita akan terbiasa dengan komunikasi asertif yang akan membangun kerjasama dan toleransi kepada orang lain.





Penerapan ke Depan (Future)

Saya akan selalu berusaha mengedepankan nilai-nilai kebajikan dan membiasakan diri untuk menerapkan prinsip pengambilan keputusan seorang pemimpin pembelajaran, mulai dari hal kecil di dalam kelas saat pembelajaran, di lingkungan rekan sejawat, hingga lingkungan masyarakat. Setelah melaksanakan aksi nyata memanfaatkan ruang kosong untuk difungsikan menjadi ruang peningkatan mutu guru, kemudian tindak lanjut ke depannya adalah saya sudah menghubungi beberapa rekan saya di komunitas Yoga yang kebetulan menjadi dosen di beberapa Universitas di Semarang. Saya menawarkan kerjasama dengan mereka untuk bisa melaksanakan Pengabdian Masyarakat di sekolah tempat saya bekerja. Alhamdulillah, mereka pun memberi respon positif dan siap berbagi ilmu dengan rekan guru. Saat pendampingan oleh dosen dengan jumlah peserta 20 orang guru, maka kegiatan akan dilaksanakan di ruang peningkatan mutu guru, namun jika peserta lebih dari 20 orang maka kegiatan bisa dilaksanakan di ruang multimedia. Semoga dengan langkah kecil ini, banyak rekan sejawat yang tergerak untuk terus belajar hal yang baru, mengembangkan diri dan keilmuan, khususnya menyiapkan pembelajaran yang berpihak pada siswa demi terwujudnya Profil Pelajar Pancasila.

 


 

No comments:

Post a Comment