Wednesday, June 22, 2022

Gebyar Literasi TURI TUSIA

  AKSI NYATA MODUL 3.3

PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

 

 Yuni Astuti Dewi Wulandari

CGP Angkatan 4 Kota Semarang

 

Nama Program : Gebyar Literasi TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik) 

                            bagi Murid kelas VII dan VIII SMP Negeri 23 Semarang


A. PERISTIWA (FACT)

Pada pembelajaran bahasa, ada 4 kompetensi atau ketrampilan yang dipelajari, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Mengutip dari Nurgiyantoro (2012:423) yang mengatakan bahwa dibandingkan tiga kompetensi berbahasa lainnya, kompetensi menulis secara umum lebih sulit dikuasai. Guru perlu mengajarkan kepada muridnya dan menggali potensi menulis tidak hanya melalui teks yang ada pada buku pelajaran, namun perlu mengenalkan pada karya sastra agar murid terbiasa menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan. Khususnya saat pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19, berdasarkan wawancara dengan murid, dirasa kurang maksimal dalam pembimbingan menulis. Maka dari itu, murid perlu diberi ruang untuk mengasah kompetensi menulis, khususnya menulis puisi.

Gebyar Literasi TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik) adalah salah satu bentuk program/kegiatan Kokurikuler dan merupakan program/kegiatan yang dilaksanakan sebagai penguatan atau pendalaman kegiatan intrakurikuler kompetensi Literasi yang dapat menguatkan karakter murid. Program yang saya usulkan dan laksanakan pada masa Class Meeting setelah selesai Penilaian Akhir Tahun (PAT) TA 2021/2022.

Tujuan program ini adalah siswa memiliki dan mampu menumbuhkan karakter kreatif, bernalar kritis, dan mandiri, dalam kegiatan merangkai puisi Akrostik. Menurut Kamus Istilah Sastra Indonesia (2018:12), puisi Akrostik adalah salah satu bentuk puisi yang huruf awal atau akhir setiap larik jika dibaca ke bawah membentuk kata atau kalimat tertentu. Kata akrostik berasal dari Bahasa Inggris acrostic dan Bahasa Belanda acrostischePada kesempatan ini satu murid membuat satu puisi Akrostik dari rangkaian abjad namanya dengan pilihan tema sekolah impian, cita-cita, dan pendidikan, itulah mengapa saya sebut program TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik). Jika murid mengambil tema sekolah impian, bisa dituangkan seperti apa kehidupan sekolah bahkan luapan perasaan mereka tentang sekolah, akan bisa menjadi bahan refleksi para guru di SMP Negeri 23 Semarang dalam mengelola program ataupun meningkatkan kualitas pembelajaran. Jika murid membawakan tema pendidikan, disitu menjadi ajang kreatifitas murid berimajinasi wujud, bentuk, dan gambaran sebuah harapan mereka di dunia pendidikan demi menyongsong masa depan dan meraih cita-cita. Aksi nyata ini dilakukan untuk mewujudkan langkah pengelolaan program yang berdampak pada murid dnegan berbasis pemetaan aset sekolah menggunakan model BAGJA dan MELR, yang dilakukan untuk memastikan sebuah program yang berdampak pada murid. Sehingga bisa menjadi langkah konkrit keterlibatan sebagai pemimpin dalam pengembangan sekolah.

Di sekolah kami, SMP Negeri 23 Semarang, kegiatan Literasi telah menjadi aktifitas rutin murid di awal pembelajaran. Setiap hari Senin s/d Jumat, 30 menit di awal pembelajaran digunakan untuk Mendengarkan Lagu Indonesia Raya 1 stanza dalam posisi berdiri (2 menit), Membaca Asmaul Husna (8 menit) dan Literasi (20 menit). Dari interview dengan sebagian besar murid kelas VII dan VIII, serta perwakilan OSIS, tentang peminatan kegiatan Literasi pada momen Class Meeting, muncul pilihan kreasi Puisi. Mereka juga menginginkan ada pilihan bahasa yang ada pada mapel pelajaran di sekolah (Bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dan Bahasa Inggris). Maka dari itulah program Gebyar Literasi TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik) ini saya usulkan dan laksanakan sekaligus sebagai Aksi Nyata pada modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid.

HASIL AKSI NYATA

Program Gebyar Literasi TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik) dilaksanakan pada hari Senin s.d Jumat tanggal 13 - 17 Juni 2022. Momen yang pas di saat Class Meeting (13- 16 Juni 2022) hingga penerimaan Rapor Hasil Belajar Murid (17 Juni 2022). Mengusung tema pilihan (sekolah impian, cita-cita, dan pendidikan) dan pilihan bahasa (Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Bahasa Inggris). Aspek penilaian karya meliputi keaslian karya, pilihan kata, dan kreatifitas menyusun kalimat. Murid juga diberikan kebebasan dalam mewujudkan karya Puisi Akrostik, bisa dengan wujud dokumen, PDF, gambar/ foto, dan video. Kemudian hasil karya Puisi Akrostik dikirimkan ke link https://bit.ly/KirimKaryaTURITUSIA .





BEBERAPA KARYA PUISI AKROSTIK 
MURID

Peserta yang mengirimkan karya sangat bervariatif dan sangat menginspirasi, mereka begitu kreatif menuangkan karyanya. Ada murid yang menulis tangan di buku kemudian difoto, ada yang menggunakan aplikasi Canva, dan dokumen lainnya (Word dan PDF). Peserta menuangkan karyanya ada yang menggunakan bahasa Inggris dan sebagian besar menggunakan bahasa Indonesia. Tidak hanya murid yang mengirimkan karya, namun juga guru yang berinisiatif mencoba membuat dan mengirimkan karyanya. Sangat membanggakan dan luar biasa karya mereka. 





Penanggungjawab program TURI TUSIA adalah Kepala Sekolah (bapak Anwar Kumaidi, S.Pd, M.Pd.), pembina adalah Wakil kepala sekolah bidang I yang sekaligus ketua Tim Literasi (ibu Titik Lestariningsih, S.Pd). Ketua pelaksana saya sendiri sebagai inisiator (Yuni Astuti D.W., S.Pd., M.Pd.), serta Tim kolaborasi Juri adalah Penilai PKG (Dra. Mufattichah dan Ismiasih, S.Pd) serta Wali Kelas sebagai pengawas pelaksanaan kegiatan murid. Target peserta Gebyar Literasi TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik) ini adalah semua murid kelas VII dan VIII SMP Negeri 23 Semarang yang telah selesai melaksanakan Penilaian Akhir Tahun (PAT) TA 2021/2022. Tidak diikuti oleh murid kelas IX dikarenakan tanggal 15 Juni 2022 telah dinyatakan lulus. 



B. PERASAAN (FEELINGS)

Saat merencanakan aksi nyata program yang berdampak pada murid ini saya merasa senang, semangat dan terus tertantang. Ditambah dengan melihat hasil karya para peserta yang luar biasa, keren, inspiratif dan kreatif, membuat saya sangat bangga. Akhirnya mucul bakat dan potensi murid lewat program ini. Tidak hanya itu, program ini juga menggandeng Tim Media Komunikasi Sekolah, tiga hasil karya Puisi Akrostik murid yang paling inspiratif dari setiap jenjang (kelas VII dan VIII) akan dibuat video menggunakan kamera sekolah, serta diupload di media sosial sekolah. Pengambilan video pun bisa dilakukan di beberapa lokasi sekolah, yaitu di ruang kesenian sekolah (Ruang Gamelan), ruang Peningkatan Mutu Guru, taman Literasi yang berada di samping kelas IX D, dan kolam ikan di halaman depan sekolah. Link video Pembacaan Naskah Karya perwakilan peserta yang terdiri dari dua orang murid dan seorang guru ada pada link You Tube https://youtu.be/XIELeIeWOjw

Membicarakan kapasitas sumber daya, sangat penting menggunakan Pendekatan Berbasis Aset (Asset-Based Thinking). Sebab pendekatan ini menemukan dan mengenali hak-hal positif. Dalam hal ini menemukan kekuatan apa saja yang perlu dioptimalkan, dibandingkan hanya mencari kekurangan dan masalah saja. Konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini adalah cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, dan yang menjadi kekuatan atau potensi positif.

C. PEMBELAJARAN (FINDINGS)

Puisi merupakan karya sastra yang mengungkapkan perasaan dan pikiran penulis ke dalam kata-kata yang indah dan menggugah. Selain sebagai bentuk ekspresi, puisi juga berperan sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan ide atau gagasan terhadap suatu hal atau peristiwa. Dibutuhkan kemampuan dalam mengolah kata dan melihat situasi untuk menulis puisi yang sarat akan makna. Ada beberapa manfaat dari karya puisi, diantaranya adalah meningkatkan kreatifitas, membuat perasaan menjadi lebih baik, menambah keberanian dalam bersuara/ menyampaikan gagasan, meningkatkan kepercayaan diri dalam berkarya, dan kesempatan mendapatkan penghasilan dengan mengirim karya puisi ke media online maupun media cetak.

Dari hasil interview dan 22 dokumen hasil karya program Gebyar Literasi TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik) yang terkirim pada link pengumpulan karya, ternyata setiap kelas mengirimkan karyanya, dan muncul sekian banyak murid (terutama murid kelas VIII) yang mempunyai minat dan bakat terhadap karya sastra puisi. Murid tidak hanya membuat kalimat dari awal huruf abjad nama mereka, namun bagaimana mereka mampu mengaitkan dan menyiratkan perasaan terhadap tema yang dipilih. Hal ini merupakan suatu kebanggaan bahwa murid (aset manusia) di sekolah kami selain prestasi akademik dan olahraga yang tampak, ternyata mempunyai jiwa seni yang sangat perlu dipoles lebih lanjut.

Tantangan pada Gebyar Literasi TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik) ini adalah pada murid yang malu menuangkan ide atau gagasannya pada sebuah karya puisi. Meskipun dalam aksinya akan terbantu pada huruf abjad nama murid itu sendiri sebagai awal pembuatan kalimat. Namun bagi beberapa murid masih menjadi kendala, khususnya murid kelas VII. 

D. PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)

Salah satu gebrakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, adalah Merdeka Belajar. Program ini menonjolkan “literasi baca” sebagai fokus pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Secara terminologi, literasi baca adalah kegiatan yang melibatkan ketrampilan kognisi dan linguistik untuk tujuan tertentu. Ketika berhadapan dengan teks, seseorang akan menjalani rangkaian proses membaca dari memahami, menggunakan, mengevaluasi, hingga merefleksikan teks.

Melalui filosofi dan metafora “menumbuhkan padi”, Ki Hajar Dewantara mengingatkan kita bahwa dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid,  kita harus secara sadar dan terencana membangun ekosistem yang mendukung pembelajaran murid sehingga mampu memekarkan mereka sesuai dengan kodratnya. Dengan demikian, saat kita merancang sebuah program/kegiatan pembelajaran di sekolah, baik itu intrakurikuler, ko-kurikuler, atau ekstrakurikuler, maka murid juga seharusnya menjadi pertimbangan utama.

Menghadapi tantangan pada program Gebyar Literasi TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik) tersebut saya merujuk pada tiga prinsip oleh Kidder (2009:144) yaitu Berpikir berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), dan Berpikir berbasis Rasa Peduli (Cared-Based Thinking).

Berpikir tentang hasil akhir program Gelar Literasi TURI TUSIA dan rasa kepedulian terhadap pengembangan minat dan pengelolaan bakat murid, maka program ini tidak akan berhenti sampai disini, akan ada tindak lanjutnya, yaitu pendampingan kegiatan “Belajar Karya Sastra Puisi” di ruang Peningkatan Mutu Guru. Kemudian, melihat prospek ke depan peminatan sastra murid SMP Negeri 23 Semarang, saya terinspirasi untuk bisa menghadirkan di sekolah seorang penulis dan sastrawan yaitu bapak Timur Sinar Suprabana yang tinggal di kecamatan Jatisari, Kota Semarang. Beliau dikenal melalui karya-karyanya berupa esei sastra, cerita pendek, dan puisi yang dipublikasikan di berbagai surat kabar. Sehingga akan menambah motivasi, menumbuhkan minat dan inspirasi murid pada dunia sastra.

 

 

 

Friday, June 10, 2022

Demonstrasi Kontekstual Modul 3.3

PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

  

Yuni Astuti Dewi Wulandari

CGP Angkatan 4 Kota Semarang

 

Rancangan Program yang Berdampak pada Murid

Pada kesempatan ini saya merencanakan program TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik). Saya memilih Puisi Akrostik karena bisa menggunakan nama para murid sendiri sebagai awalan kalimat merangkai pusi, dengan tema sekolah dan pendidikan. Kebetulan saat ini tanggal 10 Juni 2022 para siswa kelas VII dan VIII SMP Negeri 23 Semarang telah selesai melaksanakan kegiatan Penilaian Akhir Tahun (PAT) semester genap TA 2021/2022.  Kemudian Minggu depan agenda Class Meeting, sehingga saya bisa menggunakan waktu tersebut untuk melaksanakan program ini.

Visi program yang selaras dengan visi sekolah yaitu Berkarakter, Berprestasi, dan Berwawasan Lingkungan. Khususnya menumbuhkan karakter dan potensi positif pada diri murid.

Tujuan program ini adalah siswa memiliki dan mampu menumbuhkan karakter kreatif, bernalar kritis, dan mandiri, dalam kegiatan merangkai puisi Akrostik. Akrostik berasal dari bahasa Yunani, akrostichis. Artinya adalah sajak yang huruf awal dari setiap baris menyusun sebuah kata atau kalimat secara vertikal dari atas ke bawah. Puisi Akrostik biasanya membicarakan apa yang menjadi susunan huruf yang membentuk sebuah kalimat di awal baris. Pada kesempatan ini satu murid membuat satu puisi Akrostik dari rangkaian abjad namanya dengan tema sekolah atau pendidikan, itulah mengapa saya sebut program TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik). Dengan mengusung tema sekolah atau pendidikan menjadi tema bagi murid merangkai puisi, adapun jika murid membawa tema sekolah, bisa dituangkan seperti apa kehidupan sekolah bahkan luapan perasaan mereka tentang sekolah, sehingga bisa menjadi bahan refleksi para guru di SMP Negeri 23 Semarang dalam mengelola program ataupun meningkatkan kulaitas pembelajaran. Jika murid membawakan tema pendidikan, disitu menjadi ajang kreatifitas murid berimajinasi wujud, bentuk, dan gambaran sebuah harapan mereka di dunia pendidikan demi menyongsong masa depan dan meraih cita-cita.

 

Tahapan 5D/ BAGJA

1.     Buat Pertanyaan

Bagaimana menumbuhkan karakter kreatif, bernalar kritis, dan mandiri murid pada ketrampilan Literasi saat Class Meeting?

Bagaimana cara murid mengumpulkan karya program TURI TUSIA saat Class Meeting?

Apa hambatan yang kemungkinan terjadi pada program TURI TUSIA saat Class Meeting?

2.      Ambil Pelajaran

Siswa yang mampu menumbuhkan karakter kreatif, bernalar kritis, dan mandiri dalam program TURI TUSIA akan merasakan betapa pentingnya mengekspresikan gagasan dan ide dalam bentuk puisi Akrostik.

3.      Gali Mimpi

Siswa memanfaatkan sebagian waktunya pada Class Meeting untuk menulis Puisi Akrostik tema sekolah dan pendidikan, serta berkelanjutan sebagai budaya positif terutama pada ketrampilan Literasi (membaca dan menulis).

4.      Jabarkan Rencana

Siswa diberikan informasi program TURI TUSIA menulis Puisi Akrostik tema sekolah dan pendidikan saat Class Meeting semester Genap TA 2021/2022, mengirimkan hasil karya pada link Google Form yang disediakan. Kemudian berlanjut bisa dilaksanakan secara rutin pada momen Literasi dengan berganti tema agar murid bertambah kreatifitasnya. Dengan demikian program TURI TUSIA menjadi ajang bergengsi internal sekolah untuk menumbuhkan ketrampilan Literasi dan bahan refleksi diri.

5.      Atur Eksekusi

Pelaksanaan program TURI TUSIA pada Class Meeting Semester Genap TA 2021/2022 pada hari Senin s.d Jumat tanggal 13 - 17 Juni 2022 untuk Tahap I. Bisa diperpanjang dalam penerimaan hasil karya sampai Penerimaan Hasil Belajar dan Liburan Semester untuk Tahap II. Sehingga pelaksanaan program TURI TUSIA selama 2 minggu. 

Penanggungjawab program TURI TUSIA adalah Kepala Sekolah (bapak Anwar Kumaidi, S.Pd, M.Pd.), pembina adalah Wakil kepala sekolah bidang I yang sekaligus ketua Tim Literasi (ibu Titik Lestariningsih, S.Pd). Ketua pelaksanan adalah saya sendiri sebagai inisiator (Yuni Astuti D.W., S.Pd., M.Pd.), serta Tim kolaborasi adalah Penilai PKG (Dra. Mufattichah) serta Wali Kelas sebagai pengawas pelaksanaan kegiatan murid.

Rencana Monitoring, Evaluasi, Pembelajaran, dan Pelaporan 

(Monitoring, Evaluation, Learning, and Reporting)

a.      Pertanyaan Kunci

Pertanyaan Kunci

Evaluasi Program

(Diisi dengan pertanyaan utama yang menjadi tujuan evaluasi)

    Bagaimana menumbuhkan karakter kreatif, bernalar kritis, dan mandiri murid pada ketrampilan Literasi saat Class Meeting?

    Bagaimana cara murid mengirimkan karya TURI TUSIA saat Class Meeting?

       Apa hambatan yang kemungkinan terjadi pada program TURI TUSIA saat Class Meeting?

 

b.      Fokus Monitoring

Fokus Monitoring

Pertimbangan Pemilihan

Pertanyaan Utama Monitoring

Diisi dengan pilihan aktifitas atau tujuan antara program (outcomes) yang akan dipantau/ dimonitor sepanjang pelaksanaan program, hal ini yang akan digunakan sebagai data untuk evaluasi program.

Diisi dengan alasan pemilihan aktifitas atau tujuan antara (outcomes) program.

Diisi dengan pertanyaan untuk menggali fokus monitoring yang berpengaruh pada tujuan program.

Momen Class Meeting semester genap TA 2021/2022.

Untuk saat ini memaksimalkan waktu pada saat Class Meeting dengan kegiatan Literasi, yaitu satu murid menulis satu puisi Akrostik bertema sekolah dan pendidikan.

Bagaimana murid mengumpulkan karya Puisi Akrostiknya?

 

c.       Metode Penggalian Data

Pertanyaan Monitoring

Sumber Informasi

Metode

Kapan/ Bagaimana

Diisi dengan pertanyaan utama monitoring

Diisi dengan pihak/ aktor yang berkaitan dengan pertanyaan monitoring.

Diisi dengan metode untuk penggalian data kepada sumber informasi.

Contoh: kajian evaluasi, observasi, wawancara, kuesioner/ survey

Diisi dengan waktu penggalian informasi.

Bagaimana menumbuhkan karakter kreatif, bernalar kritis, dan mandiri murid pada ketrampilan Literasi saat Class Meeting?

 

Bagaimana cara murid mengirimkan karya TURI TUSIA saat Class Meeting?

 

Apa hambatan yang kemungkinan terjadi pada program TURI TUSIA saat Class Meeting?

Guru, Murid

Wawancara langsung dan Google Form

Setelah selesai kegiatan Penilaian Akhir Semester (PAT), hingga saat Class Meeting.

 

d.      Strategi Pengolahan Data

Pertanyaan Monitoring

Data yang Terkumpul

Kesimpulan

Catatan Khusus, Pengecualian, dll

Diisi dengan pertanyaan monitoring dan pertanyaan tambahan tentang tim pengelola program.

Diisi dengan data dan informasi yang menjawab pertanyaan monitoring tersebut, dari berbagai metode.

Diisi dengan kesimpulan yang dapat ditarik untuk menjawab pertanyaan monitoring dari data dan informasi yang ada pada kolom kedua.

Bila ada catatan khusus yang memberikan nuansa atas kesimpulan yang ditarik, catat di kolom ini.

Bagaimana murid mengumpulkan karya Puisi Akrostiknya?

Google Form

Demi efisiensi waktu dan mengurangi penggunaan kertas, murid bisa mengumpulkan karya melalui link Google Form yang disediakan.

Program ini terbuka untuk semua murid kelas VII dan VIII SMP Negeri 23 Semarang.

 

e.       Pembelajaran Program

Faktor Pendukung Pelaksanaan Program

Faktor Penghambat Pelaksanaan Program

Pembelajaran

Diisi dengan hal-hal yang mendukung keberhasilan program

Diisi dengan hal-hal yang menghambat pencapaian program

Diisi dengan hasil refleksi dan temuan signifikan selama pelaksana program

Momen yang tepat mengekspresikan diri, yaitu saat Class Meeting.

Bagi murid menulis puisi akan menjadi tantangan tersendiri.

Karya murid menjadi kajian refleksi sekolah dan bahan diskusi peningkatan pendidikan, khususnya di SMP Negeri 23 Semarang.

 

Akan muncul murid-murid yang mempunyai bibit jiwa seni, sehingga bisa didampingi dan dikembangkan bakatnya pada dunia sastra.

 

f.       Pelaporan Program (Dilengkapi setelah Pelaksanaan Program)

LAPORAN PELAKSANAAN PROGRAM

Gambaran Umum Program :

TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik)

 

Deskripsi Pelaksanaan Program : Program ini terbuka untuk semua murid kelas VII dan VIII SMP Negeri 23 Semarang.

Waktu pelaksanaan : Saat Class Meeting Semester Genap TA 2021/2022

Strategi Pelaksanaan Program

Faktor Pendukung dan Penghambat Program, Faktor Pendukung

Hasil Pelaksanaan Program

Evaluasi Program

Pembelajaran Program

Fakta (Fact)

Perasaan (Feeling)

Temuan (Finding)

Masa Depan (Future)

 

Pelibatan Orang Tua dan Komunitas

Orangtua dan komunitas memiliki keterlibatan secara langsung dalam kegiatan TURI TUSIA ini, mengingat program ini menjadi bagian dari kegiatan Class Meeting Semester Genap TA 2021/2022 SMP Negeri 23 Semarang. Motivasi dan pengawasan dari guru, wali kelas, orang tua / wali murid, dan komunitas sangat menentukan keberhasilan program.

Durasi program yang berkisar selama satu minggu.Tentunya kurang cukup untuk melakukan program tersebut. Program ini pun akan terus berlanjut agar bermanfaat sepanjang waktu dan mampu menjadi wadah kreatifitas siswa, khususnya ketrampilan Literasi.


Flyer Gebyar Literasi "TURI TUSIA"

Tuesday, June 7, 2022

Refleksi Terbimbing Modul 3.3

REFLEKSI TERBIMBING MODUL 3.3

Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

 

 

Yuni Astuti Dewi Wulandari

CGP Angkatan 4 Kota Semarang


1. Hal yang menarik bagi saya setelah mempelajari modul 3.3 ini adalah saya mendapat pengetahuan dan pemahaman bagaimana menyusun sebuah program yang berdampak pada murid. Ditambah lagi setelah melakukan Ruang Kolaborasi dan presentasi kelompok tentang Pengelolaan Program yang berdampak pada murid, semakin jelas bagi saya bahwa perencanaan program yang akan dilakukan perlu diawali dengan identifikasi dan pemetaan berdasarkan sumber daya yang dimiliki dengan melihat potensi dan kekuatan yang ada. Sekali lagi perlu kita perhatikan tentang bentuk-bentuk program sekolah, perencanaan program sekolah yang berdampak pada murid, dan pengelolaan program dengan strategi MELR dan Manajemen Resiko

2. Hal yang mengejutkan yang saya temukan dalam proses pembelajaran tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid ini adalah menyadari bahwa selama ini jika menyusun sebuah program tidak melihat ke tujuh aset yang ada di sekolah, hanya terfokus pada anggaran, sarpras dan sumber daya manusia. Padahal masih banyak aset lain yang perlu dipertimbangkan. Dalam membuat program setidaknya dijalankan dengan SOP yaitu MELR (Monitoring, Evaluation, Learning, dan Reporting), setelah itu menganalisis Manajemen Resiko.

3. Hal yang berubah yang akan saya lakukan setelah memahami atau mempelajari materi ini adalah mengimbaskan atau menyampaikan kepada rekan sejawat di sekolah saya agar siapapun yang akan mengusulkan program bisa melakukan langkah-langkah yang semestinya. Dimulai dari memetakan aset yang potensial di sekolah, menggunakan tahapan BAGJA, MELRS, 12 Prinsip Monitoring dan Evaluasi,  5 Strategi desain program, serta Analisis Manajemen Resiko.

4. Hal yang menantang bagi saya adalah menyatukan visi dan misi semua dalam mewujudkan program sekolah yang berdampak pada murid agar berjalan lancar, sukses, dan sesuai rencana. Selain itu penting sekali memetakan aset dan potensi yang ada, serta menganalisis dampak program secara komprehensif untuk murid dari sisi positif maupun resiko yang mungkin muncul.

5. Sumber-sumber dukungan yang saya miliki untuk membantu saya menyusun program yang berdampak pada murid adalah semua warga sekolah yang terlibat, yaitu Kepala Sekolah, Guru, Staf karyawan/ Tendik, dan Komite.