Wednesday, June 22, 2022

Gebyar Literasi TURI TUSIA

  AKSI NYATA MODUL 3.3

PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

 

 Yuni Astuti Dewi Wulandari

CGP Angkatan 4 Kota Semarang

 

Nama Program : Gebyar Literasi TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik) 

                            bagi Murid kelas VII dan VIII SMP Negeri 23 Semarang


A. PERISTIWA (FACT)

Pada pembelajaran bahasa, ada 4 kompetensi atau ketrampilan yang dipelajari, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Mengutip dari Nurgiyantoro (2012:423) yang mengatakan bahwa dibandingkan tiga kompetensi berbahasa lainnya, kompetensi menulis secara umum lebih sulit dikuasai. Guru perlu mengajarkan kepada muridnya dan menggali potensi menulis tidak hanya melalui teks yang ada pada buku pelajaran, namun perlu mengenalkan pada karya sastra agar murid terbiasa menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan. Khususnya saat pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19, berdasarkan wawancara dengan murid, dirasa kurang maksimal dalam pembimbingan menulis. Maka dari itu, murid perlu diberi ruang untuk mengasah kompetensi menulis, khususnya menulis puisi.

Gebyar Literasi TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik) adalah salah satu bentuk program/kegiatan Kokurikuler dan merupakan program/kegiatan yang dilaksanakan sebagai penguatan atau pendalaman kegiatan intrakurikuler kompetensi Literasi yang dapat menguatkan karakter murid. Program yang saya usulkan dan laksanakan pada masa Class Meeting setelah selesai Penilaian Akhir Tahun (PAT) TA 2021/2022.

Tujuan program ini adalah siswa memiliki dan mampu menumbuhkan karakter kreatif, bernalar kritis, dan mandiri, dalam kegiatan merangkai puisi Akrostik. Menurut Kamus Istilah Sastra Indonesia (2018:12), puisi Akrostik adalah salah satu bentuk puisi yang huruf awal atau akhir setiap larik jika dibaca ke bawah membentuk kata atau kalimat tertentu. Kata akrostik berasal dari Bahasa Inggris acrostic dan Bahasa Belanda acrostischePada kesempatan ini satu murid membuat satu puisi Akrostik dari rangkaian abjad namanya dengan pilihan tema sekolah impian, cita-cita, dan pendidikan, itulah mengapa saya sebut program TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik). Jika murid mengambil tema sekolah impian, bisa dituangkan seperti apa kehidupan sekolah bahkan luapan perasaan mereka tentang sekolah, akan bisa menjadi bahan refleksi para guru di SMP Negeri 23 Semarang dalam mengelola program ataupun meningkatkan kualitas pembelajaran. Jika murid membawakan tema pendidikan, disitu menjadi ajang kreatifitas murid berimajinasi wujud, bentuk, dan gambaran sebuah harapan mereka di dunia pendidikan demi menyongsong masa depan dan meraih cita-cita. Aksi nyata ini dilakukan untuk mewujudkan langkah pengelolaan program yang berdampak pada murid dnegan berbasis pemetaan aset sekolah menggunakan model BAGJA dan MELR, yang dilakukan untuk memastikan sebuah program yang berdampak pada murid. Sehingga bisa menjadi langkah konkrit keterlibatan sebagai pemimpin dalam pengembangan sekolah.

Di sekolah kami, SMP Negeri 23 Semarang, kegiatan Literasi telah menjadi aktifitas rutin murid di awal pembelajaran. Setiap hari Senin s/d Jumat, 30 menit di awal pembelajaran digunakan untuk Mendengarkan Lagu Indonesia Raya 1 stanza dalam posisi berdiri (2 menit), Membaca Asmaul Husna (8 menit) dan Literasi (20 menit). Dari interview dengan sebagian besar murid kelas VII dan VIII, serta perwakilan OSIS, tentang peminatan kegiatan Literasi pada momen Class Meeting, muncul pilihan kreasi Puisi. Mereka juga menginginkan ada pilihan bahasa yang ada pada mapel pelajaran di sekolah (Bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dan Bahasa Inggris). Maka dari itulah program Gebyar Literasi TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik) ini saya usulkan dan laksanakan sekaligus sebagai Aksi Nyata pada modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid.

HASIL AKSI NYATA

Program Gebyar Literasi TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik) dilaksanakan pada hari Senin s.d Jumat tanggal 13 - 17 Juni 2022. Momen yang pas di saat Class Meeting (13- 16 Juni 2022) hingga penerimaan Rapor Hasil Belajar Murid (17 Juni 2022). Mengusung tema pilihan (sekolah impian, cita-cita, dan pendidikan) dan pilihan bahasa (Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Bahasa Inggris). Aspek penilaian karya meliputi keaslian karya, pilihan kata, dan kreatifitas menyusun kalimat. Murid juga diberikan kebebasan dalam mewujudkan karya Puisi Akrostik, bisa dengan wujud dokumen, PDF, gambar/ foto, dan video. Kemudian hasil karya Puisi Akrostik dikirimkan ke link https://bit.ly/KirimKaryaTURITUSIA .





BEBERAPA KARYA PUISI AKROSTIK 
MURID

Peserta yang mengirimkan karya sangat bervariatif dan sangat menginspirasi, mereka begitu kreatif menuangkan karyanya. Ada murid yang menulis tangan di buku kemudian difoto, ada yang menggunakan aplikasi Canva, dan dokumen lainnya (Word dan PDF). Peserta menuangkan karyanya ada yang menggunakan bahasa Inggris dan sebagian besar menggunakan bahasa Indonesia. Tidak hanya murid yang mengirimkan karya, namun juga guru yang berinisiatif mencoba membuat dan mengirimkan karyanya. Sangat membanggakan dan luar biasa karya mereka. 





Penanggungjawab program TURI TUSIA adalah Kepala Sekolah (bapak Anwar Kumaidi, S.Pd, M.Pd.), pembina adalah Wakil kepala sekolah bidang I yang sekaligus ketua Tim Literasi (ibu Titik Lestariningsih, S.Pd). Ketua pelaksana saya sendiri sebagai inisiator (Yuni Astuti D.W., S.Pd., M.Pd.), serta Tim kolaborasi Juri adalah Penilai PKG (Dra. Mufattichah dan Ismiasih, S.Pd) serta Wali Kelas sebagai pengawas pelaksanaan kegiatan murid. Target peserta Gebyar Literasi TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik) ini adalah semua murid kelas VII dan VIII SMP Negeri 23 Semarang yang telah selesai melaksanakan Penilaian Akhir Tahun (PAT) TA 2021/2022. Tidak diikuti oleh murid kelas IX dikarenakan tanggal 15 Juni 2022 telah dinyatakan lulus. 



B. PERASAAN (FEELINGS)

Saat merencanakan aksi nyata program yang berdampak pada murid ini saya merasa senang, semangat dan terus tertantang. Ditambah dengan melihat hasil karya para peserta yang luar biasa, keren, inspiratif dan kreatif, membuat saya sangat bangga. Akhirnya mucul bakat dan potensi murid lewat program ini. Tidak hanya itu, program ini juga menggandeng Tim Media Komunikasi Sekolah, tiga hasil karya Puisi Akrostik murid yang paling inspiratif dari setiap jenjang (kelas VII dan VIII) akan dibuat video menggunakan kamera sekolah, serta diupload di media sosial sekolah. Pengambilan video pun bisa dilakukan di beberapa lokasi sekolah, yaitu di ruang kesenian sekolah (Ruang Gamelan), ruang Peningkatan Mutu Guru, taman Literasi yang berada di samping kelas IX D, dan kolam ikan di halaman depan sekolah. Link video Pembacaan Naskah Karya perwakilan peserta yang terdiri dari dua orang murid dan seorang guru ada pada link You Tube https://youtu.be/XIELeIeWOjw

Membicarakan kapasitas sumber daya, sangat penting menggunakan Pendekatan Berbasis Aset (Asset-Based Thinking). Sebab pendekatan ini menemukan dan mengenali hak-hal positif. Dalam hal ini menemukan kekuatan apa saja yang perlu dioptimalkan, dibandingkan hanya mencari kekurangan dan masalah saja. Konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini adalah cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, dan yang menjadi kekuatan atau potensi positif.

C. PEMBELAJARAN (FINDINGS)

Puisi merupakan karya sastra yang mengungkapkan perasaan dan pikiran penulis ke dalam kata-kata yang indah dan menggugah. Selain sebagai bentuk ekspresi, puisi juga berperan sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan ide atau gagasan terhadap suatu hal atau peristiwa. Dibutuhkan kemampuan dalam mengolah kata dan melihat situasi untuk menulis puisi yang sarat akan makna. Ada beberapa manfaat dari karya puisi, diantaranya adalah meningkatkan kreatifitas, membuat perasaan menjadi lebih baik, menambah keberanian dalam bersuara/ menyampaikan gagasan, meningkatkan kepercayaan diri dalam berkarya, dan kesempatan mendapatkan penghasilan dengan mengirim karya puisi ke media online maupun media cetak.

Dari hasil interview dan 22 dokumen hasil karya program Gebyar Literasi TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik) yang terkirim pada link pengumpulan karya, ternyata setiap kelas mengirimkan karyanya, dan muncul sekian banyak murid (terutama murid kelas VIII) yang mempunyai minat dan bakat terhadap karya sastra puisi. Murid tidak hanya membuat kalimat dari awal huruf abjad nama mereka, namun bagaimana mereka mampu mengaitkan dan menyiratkan perasaan terhadap tema yang dipilih. Hal ini merupakan suatu kebanggaan bahwa murid (aset manusia) di sekolah kami selain prestasi akademik dan olahraga yang tampak, ternyata mempunyai jiwa seni yang sangat perlu dipoles lebih lanjut.

Tantangan pada Gebyar Literasi TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik) ini adalah pada murid yang malu menuangkan ide atau gagasannya pada sebuah karya puisi. Meskipun dalam aksinya akan terbantu pada huruf abjad nama murid itu sendiri sebagai awal pembuatan kalimat. Namun bagi beberapa murid masih menjadi kendala, khususnya murid kelas VII. 

D. PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)

Salah satu gebrakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, adalah Merdeka Belajar. Program ini menonjolkan “literasi baca” sebagai fokus pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Secara terminologi, literasi baca adalah kegiatan yang melibatkan ketrampilan kognisi dan linguistik untuk tujuan tertentu. Ketika berhadapan dengan teks, seseorang akan menjalani rangkaian proses membaca dari memahami, menggunakan, mengevaluasi, hingga merefleksikan teks.

Melalui filosofi dan metafora “menumbuhkan padi”, Ki Hajar Dewantara mengingatkan kita bahwa dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid,  kita harus secara sadar dan terencana membangun ekosistem yang mendukung pembelajaran murid sehingga mampu memekarkan mereka sesuai dengan kodratnya. Dengan demikian, saat kita merancang sebuah program/kegiatan pembelajaran di sekolah, baik itu intrakurikuler, ko-kurikuler, atau ekstrakurikuler, maka murid juga seharusnya menjadi pertimbangan utama.

Menghadapi tantangan pada program Gebyar Literasi TURI TUSIA (Satu Murid Satu Puisi Akrostik) tersebut saya merujuk pada tiga prinsip oleh Kidder (2009:144) yaitu Berpikir berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), dan Berpikir berbasis Rasa Peduli (Cared-Based Thinking).

Berpikir tentang hasil akhir program Gelar Literasi TURI TUSIA dan rasa kepedulian terhadap pengembangan minat dan pengelolaan bakat murid, maka program ini tidak akan berhenti sampai disini, akan ada tindak lanjutnya, yaitu pendampingan kegiatan “Belajar Karya Sastra Puisi” di ruang Peningkatan Mutu Guru. Kemudian, melihat prospek ke depan peminatan sastra murid SMP Negeri 23 Semarang, saya terinspirasi untuk bisa menghadirkan di sekolah seorang penulis dan sastrawan yaitu bapak Timur Sinar Suprabana yang tinggal di kecamatan Jatisari, Kota Semarang. Beliau dikenal melalui karya-karyanya berupa esei sastra, cerita pendek, dan puisi yang dipublikasikan di berbagai surat kabar. Sehingga akan menambah motivasi, menumbuhkan minat dan inspirasi murid pada dunia sastra.

 

 

 

No comments:

Post a Comment